SEJARAH BATAK ANGKOLA BAB II

Nama : Dewi An-nisa Harahap
NPM : 201214017
Matkul : Bahasa Bantu
Kelas. : 4-A
Dospem: Ibu Lisa Septia Dewi Br.Ginting



                                 BAB II
                   SEJARAH ANGKOLA

2.1 Sejarah Suku Angkola
Suku Batak merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera timur, di Sumatera Utara. Nah agama yang dianut suku ini adalah agama Kristen protestan, Kristen Katolik dan Islam Sunni. Selain dari itu ada pula yang menganut kepercayaan tradisional seperti tradisi Malim dan juga menganut kepercayaan animisme (Sipalebegu atau parbegu) walaupun penganutnya sudah berkurang. Dalam sensus penduduk tahun 1930 dan 2000, pemerintah mengklarifikasikan Simalungun, Karo, Toba, Mandailing, pakpak, dan angkola sebagai etnis Batak.

Selain dari itu suku Batak memiliki beberapa sub-sub suku lain yang dikategorikan sebagai : 
1. Batak Toba
2. Batak Karo
3. Batak pakpak
4. Batak Simalungun
5. Batak angkola serta
6. Batak Mandailing 

Nah pada abad ke-6, pedagang-pedagang tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Dan pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini yang menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang tamil dari pesisir Sumatera. Lanjut pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka ini terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal.

2.2 Identitas Batak
Ada tiga pendapat yang mengungkapkan mengenai identitas suku Batak yaitu :
1. R.W Liddle mengatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatera di bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Dan menurutnya sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung saja.
2. Munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial. Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah "tanah Batak" dan "rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing.
3. Siti Omas Manurung, istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik karo maupun Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut.

2.3 Bahasa
Bahasa yang digunakan oleh orang Batak adalah bahasa dan sebagian juga ada yang menggunakan bahasa Melayu. Disetiap puak memiliki logam yang berbeda-beda. Orang Karo menggunakan logat Karo, sementara itu logat Pakpak dipakai oleh Batak Pakpak, logat Simalungun pula dipakai oleh Batak Simalungun. Sedangkan logat Toba dipakai oleh orang Batak Toba, Angkola, dan Mandailing.

2.4 kesenian
Tari tor-tor merupakan kesenian yang dimiliki suku Batak. Tarian ini pula bersifat magis. Ada lagi tari serampang 12 yang hanya bersifat hiburan. Sementara untuk alat musik tradisionalnya adalah gong dan Saga Saga. Adapun warisan kebudayaan yang berbentuk kain adalah kain ulos. Kain hasil kerajinan tenun suku Batak ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, serta menyambut tamu yang dihormati dan upacara tor-tor.

2.5 Penyebaran Agama
1. Masuknya Islam
Ibn battuta mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir. Masyarakat batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Nah bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatkan pemeluk Islam ditengah-tengah masyarakat Batak.
2. Masuknya Kristen
Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar danau toba pada tahun 1861, dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommessen. Kitab perjanjian baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan kitab perjanjian lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893.
    Selanjutnya misi Katolik di tanah Batak terhitung sejak pastor misionaris pertama yakni pastor Sybrandus Van Rossum, OFM.Cap masuk ke jantung tanah Batak, yakni Balige tanggal 5 Desember 1934.

2.6 Kepercayaan
Sebelum suku Batak Toba mengenal agama, mereka menganut sistem kepercayaan religi tentang mulajadi na Bolon yang memiliki kekuasaan diatas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu. Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep, yaitu : 
1. Tondi : adalah jiwa atau roh seorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu Tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi didapat sejak seseorang didalam kandungan. Bila Tondi meninggalkan badan seseorang, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) Tondi dari sombaon yang menawannya.
2. Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki Tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Karena sahala ini sama dengan Samantha. Tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.
3. Begu : adalah Tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, namun hanya muncul pada waktu malam.

2.7 Salam Khas Batak
Salam horas merupakan salam suku Batak yang terkenal, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di masyarakat yakni mejuah juah dan njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing-masing berdasarkan puak yang menggunakannya.
1. Pakpak "njuah-juah Mo Banta Karina!"
2. Karo "Mejuah-juah kita Karina!"
3. Toba "Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!"
4. Simalungun "Horas Banta Hanagupan, Salam Habonaran Do Bona!"
5. Mandailing dan Angkola "Horas Tondi madingin  Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!"

2.8 Kekerabatan
Ada 2 bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada. Dalam bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari siraja Batak, di mana semua suku bangsa batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarpa dan antar marga tertentukan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan adat adalah ikatan sedarah dalam marga. Kemudian marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah marga Harahap vs marga lainnya. 
   Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi : jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. Merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan adat.
   Dalam persoalan perkawinan, dalam tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan. Maka dari itu, jika ada yang menikah harus mencari pasangan hidup dari marga lain.

2.9 Ritual Kanibalisme
Di bawah ini adalah beberapa dokumentasi mengenai praktik ritual kanibalisme pada kalangan suku Batak terdahulu.
1. Dalam memoir Marco Polo yang sempat datang berekspedisi di pesisir timur Sumatera dari bulan April sampai September 1292, Iya menyebutkan bahwa ia berjumpa dengan orang yang menceritakan akan adanya masyarakat pedalaman man yang disebut sebagai "pemakan manusia". Dari sumber-sumber sekunder, Marco polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat "battas".
2. Niccolo Da Conti (1395-1469), seorang Venesia yang menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatera, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia tenggara (1414-1439), mencatat kehidupan masyarakat. Dia menulis sebuah deskripsi singkat tentang penduduk Batak :"dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka".
3. Thomas Stamford Raffles pada tahun 1820 mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran yang yang dibenarkan. Reffles menyatakan bahwa :"suatu hal yang biasa di mana orang-orang memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu penjahat akan dimakan hidup-hidup". "Daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam dan sedikit nasi".
4. Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Junghuhn, mengatakan tentang ritual kanibalisme diantara orang Batak (yang ia sebut "battaer"). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, Iya tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan oleh tuan rumahnya adalah daging dari 2 tahanan yang telah disembelih dari sebelumnya. 
5. Oscar von Kessel mengunjungi silindung pada tahun 1840-an, dan pada tahun 1444 mungkin orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, terdapat deskripsi paralel dari marsden untuk beberapa hal penting, von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau penghianatan 
6. Ida Pfeiffer mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa "tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara berhati-hati diawetkan untuk minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh kemudian didistribusikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja, selain klaim atau sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar.

Nah pada akhirnya ritual kanibalisme ini mulai hilang ketika pada tahun 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di wilayah kendali mereka. Rumor kanibalisme ini bertahan hingga awal abad ke-20, dan telah jarang dilakukan sejak tahun 1816 karena pengaruh agama pendatang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUMPULAN TUGAS-TUGAS JURNALISTIK