Kumpulan Tugas Eyd_Dewi An-nisa Harahap(201214017)_PBSI

NAMA : Dewi An-nisa Harahap
NIM : 201214017
MATKUL : EJAAN BAHASA INDONESIA 
KELAS : 3-A UMN AL-WASHLIYAH MEDAN
PRODI : PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
DOSEN : IBU LISA SEPTIA DEWI BR.GINTING.,S.Pd.,M.Pd 


1. Tugas EYD pertemuan ke-3
1. Berita itu muncul dalam surat kabar Indonews. Penulisan untuk nama surat kabar yang berhuruf miring pada kaimat diatas yang benar adalah...
Jawaban : c. Berita itu muncul dalam surat kabar Indonews
Alasannya : huruf miring dipakai untuk nama surat kabar yang di kutip dalam tulisan. Nah, kata 'Indonews' termasuk dalam tulisan tersebut.

2. Penulisan pada pemakaian koma yang benar yaitu...
Jawaban : b. Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Alasannya : tanda koma di pakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau bilangan. Dan jawaban (b) sudah termasuk di dalamnya.

3. Sang Sapurba mendengarkan bunyi gemerisik.
Pemakaian tanda kurung siku [...] Pada kata yang bergaris bawah yang benar adalah...
Jawaban : a. Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Alasannya : karena tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang di tulis orang lain. Dan jawaban (a) sudah termasuk salah satu contohnya.

4. Kosakata lagu daerah Banyuwangi. Pemenggalan kata yang bergaris bawah sesuai EYD adalah...
Jawaban : b. Kosakata lagu daerah Banyuwangi.
Alasannya : karena pemenggalan kata 'kosakata' sudah bergaris sesuai EYD dan tidak dapat di pisah.

5. Kosakata using arkhais. Penulisan kata bercetak tebal berdasarkan EYD diatas adalah...
Jawaban : a. Kosakata using arkais.
Alasannya : karena berdasarkan EYD penulisan yang benar adalah 'arkais' bukan 'arkhais'.

6. Mandeskripsikan makna leksikal. Penulisan kata yang benar bercetak tebal diatas adalah...
Jawaban : c. Mendiskripsikan makna leksikal.
Alasannya : karena pada dasarnya sesuai EYD penulisan yang benar adalah 'mendiskripkan'. Jadi dia menggunakan kata depan 'Mendis' bukan 'Mandes'.

7. Habis gelap terbitlah terang
Penulisan kalimat judul diatas yang benar menurut EYD adalah...
Jawaban : c. HABIS GELAP TERBITLAH TERANG 
Alasannya : karena penulisan judul harus menggunakan huruf kapital dan tidak miring, juga di sertai dengan huruf tebal.

8. Negara itu telah mengalami empat kali kudeta. 
Kalimat diatas penulisan ungkapan asing yang di garis bawah yang benar yaitu...
Jawaban : c. Negara itu telah mengalami empat kali kudeta. 
Alasannya : karena kata 'kudeta' termasuk dalam huruf miring yang dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.

9. Penulisan bentuk ulang yang benar menurut EYD adalah...
Jawaban : a. Gedung-gedung tinggi
Alasannya : Karena bentuk ulang yang benar menurut EYD adalah di tulis dengan menggunakan hubung (-) diantara unsur-unsurnya.

10. Penulisan partikel pada kalimat dibawah ini yang benar yaitu...
Jawaban : a. Bacalah buku itu baik-baik!.
Alasannya : karena jawaban (a) termasuk dalam partikel -lah, -kah, dan -tah. Di tulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

11. Harimau itu marah sekali kepada sangKancil.
Kalimat diatas untuk penulisan kata sang yang benar adalah...
Jawaban : c. Harimau itu marah sekali kepada Sang Kancil.
Alasannya : karena kata 'sang' di tulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

12. Kalimat pernyataan pemakaian tanda titik yang benar dibawah ini yaitu, kecuali...
Jawaban : c. Penduduk Jakarta lebih dari 11000 orang
Alasannya : karena pada jawaban (c) pada kalimatnya tidak di akhiri dengan tanda titik.

13. Penulisan ejaan yang benar pada kalimat dibawah ini adalah...
Jawaban : b. Kata Ibu, "saya gembira sekali."
Alasannya : jawaban (b) sudah menunjukkan ejaan, dimulai dari penulisan nama yang diawali dengan huruf kapital dan di susul dengan tanda petik yang mengapit langsung dari pembicaraan.

14. Pemakaian tanda koma yang benar pada kalimat...
Jawaban : b. O, begitu?
Alasannya : pemakaian tanda komanya sudah benar karena tanda koma di pakai sebelum dan/atau sesudah kata seru.

15. Penulisan pada tanda titik dua yang tepat adalah...
Jawaban : a. Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati
Alasannya : jawaban (a) sudah menggunakan tanda titik dua yang tepat karena tanda titik dua dipakai akhir pada suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasannya.

2. Tugas EYD Pertemuan ke-4
1. Penulisan pertikel (per) yang tepat yaitu kecuali . . . .
Jawab : c. Pegawai itu mendapat kenaikan gaji per1januar
Alasannya : Karena seharusnya partikel (per) ditulis terpisah. Sedangkan pada jawaban 'c' penulisan (per) nya tidak terpisah.

2. Penulisan huruf kapital untuk nama jabatan yang benar adalah, kecuali  . . . .
Jawab : b. Kegiatan itu direncanakan oleh departemen.
Alasannya : karena pada dasarnya penulisan nama jabatan diawali dengan huruf kapital. Sedangkan pada jawaban 'b' kata 'departemen' tidak menggunakan huruf kapital.

3. Kata baku dibawah ini yang benar menurut EYD yaitu, kecuali  . . . .
Jawab : c. Apotik
Alasannya : karena pada kata 'apotik' tidak menggunakan kata baku. Sedangkan kata baku yang sebenarnya adalah 'apotek'.

4. Pemakaian tanda koma (,) yang benar pada kalimat, kecuali  . . . .
Jawab : b. Raya 6 Jakarta
Alasannya : karena pada jawaban 'c' sama sekali tidak ada kata yang menggunakan tanda koma (,).
5. Ai tetap au
Penulisan kata serapan yang benar dibawah ini, yaitu . . . .
Jawab : b. Totrof
Alasannya : Karena kata serapan pada umumnya tidak ada kata serapan yang berbentuk ai tetap au. Maka jawabannya adalah b yaitu totrof. Dan kalau kata yang di serap dalam bentuk au tetap au contohnya saja seperti audiogram dan autotroph.

6. Kalimat dibawah yang menggunakan kata turunan yaitu . . . .
Jawab : c. Mau
Alasannya : karena kata turunan sama saja dengan kata berimbuhan, yakni imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya. Kata 'mau' pada jawaban 'c' adalah kata dasar dari 'kemauan'.

7. Kata titik dua (:) yang benar adalah  . . .
Jawab : b. Sekretaris : Bardawati
Alasannya : karena setiap tanda titik dua (:) dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan penjelasan lebih. Misal : Sekretaris. 
Kalau sekretaris saja, otomatis tidak benar karena ia tidak menjelaskan siapa sekretarisnya. Kecuali kalau sekretaris : bardawati. Nah disitu dibuat penjelasan dari kata atau ungkapan sebelumnya.

8. Penulisan kata pertikel yang benar dibawah ini adalah kecuali . . . .
Jawab : b. Ada pun sebabnya belum diketahui.
Alasannya : Karena partikel pun di kalimat itu merupakan unsur dari kata penghubung maka harus ditulis serangkai.

9. Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Penulisan huruf miring pada kata serapan dibawah ini yang tepat dengan EYD yaitu  . . . .
Jawab : c. Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Alasannya : karena pada dasarnya huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing. Nah kata 'carcinia mangostana' termasuk kata asing.
Penulisan huruf cetak tebal yang benar dalam EYD ,kecuali  . . . .
Jawab : b. skripsi itu terdapat daftar, indeks dan lampiran
Alasannya : karena pada jawaban 'b' tidak terdapat satupun huruf bercetak tebal.

11. Cara penulisan  singkatan resmi dibawah ini yang tepat adalah . . . .
Jawab : b. PT peseroan terbatas
Alasannya : karena pada jawaban 'b' merupakan singkatan resmi yang benar. Yakni singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa titik.

12. Penulisan kata singkatan dibawah ini yang sesuai EYD, kecuali   . . .
Jawab : b. Halaman.
Alasannya : karena pada jawaban 'b' Tersebut tidak ada kata singkatan yang sesuai EYD. Sedangkan pada pilihan yang lain singkatan yang sesuai EYD nya ada.

13. Penulisan akronim dibawah ini yang tepat dengan EYD, kecuali . . . .
Jawab : a. Rp
Alasannya : 'Rp' tidak termasuk pada penulisan akronim yang tepat dengan EYD. Karena pada dasarnya akronim ini nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata di tulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

14. Hotel Mahameru, kamar 169.
Penulisan ejaan yang benar pada kalimat diatas adalah . . .
Jawab : c. Hotel Mahameru, Kamar 169.
Alasannya : pada jawaban diatas penulisan 'Hotel Mahameru, 169' Sudah benar. Dimulai dari penulisan huruf kapital, tanda titik (.), dan koma (,) nya sudah sesuai dengan EYD.

15. Kalimat dibawah ini yang benar dengan pemakaian tanda koma EYD, kecuali . . . .
Jawab : c. 273 m
Alasannya : karena tanda koma (,) dipakai sebelum angka desimal atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Sedangkan pada jawaban 'c' tidak termasuk didalamnya.

16. Tanda hubung yang digunakan untuk pengulangan kata ulang pada kalimat dibawah ini yang benar     adalah  . . . .
Jawab : b. Berulang-ulang
Alasannya : pada kata 'berulang-ulang' sudah benar tanda hubungannya. Karena tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.

17. Alangkah indahnya taman laut ini.
Penulisan pernyataan di atas dijadikan kalimat perintah adalah  . . . .
Jawab : a. Alangkah indahnya taman laut ini !
Alasannya : karena tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.



18. Kata dia saya juga minta satu
Penulisan yang benar dengan memerhatikan tanda bacanya yaitu . . . .
Jawab : c. Kata dia, “Saya juga minta satu.”
Alasannya : karena tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Pada jawaban 'c' sudah termasuk didalamnya.

19. Ani di sekolahan mendapatkan bea siswa.
Penulisan kata bergaris bawah yang benar adalah . . . .
Jawab : a. Beasiswa.
Alasannya : karena pada kata 'bea siswa' tidak sesuai, sebab kata yang benar dan baku ialah 'Beasiswa'.

20. Kemaren sore si Andi mengikuti les tambahan.
Kata baku yang tepat untuk kata bergaris bawah yaitu . . .
Jawab : b. Kemarin.
Alasannya : sebab pada kata 'kemaren' tidak menggunakan kata baku. Sedangkan kata bakunya adalah 'kemarin'.

3. Tugas EYD Pertemuan ke-5
Gambar (1)
Penjelasan :
Gambar 1 ; Poster Pendidikan 
 Penulisan Ejaan pada gambar ini dalam penulisan mAhAL tiak sesuai EYD , Karena terdapat penulisan huruf kapital ditengah kata. Lalu penulisan yang benar itu adalah : mahal ataupun MAHAL. Poster ini juga termasuk bagus karena ada kalimat persuasifnya ( kalimat ajakannya ).

Gambar (2)
Penjelasan :
Gambar 2 ; Iklan Niaga 
Dalam penulisan gambar ini yang salah itu kata “Bikin” . Karena, seharusnya kata yang baku yang dipakai yaitu “ Membuat”. Dan kata "Bikin" adalah kata yang tidak baku atau tidak sesuai dengan EYD.

Gambar (3)
Penjelasan :
Gambar (3) ; Pamflet yang artinya brosur
Seharusnya dalam gambar ini ditambah dengan kata depan seperti “ Di” agar lebih mudah dipahami dan baku juga , misal : Jualan di larang masuk.
Dan penulisan kata asing sudah benar.

Gambar (4)
Penjelasan :
 Gambar (4) ; Iklan Cetak
penulisan EYD dalam iklan ini menurut saya sudah benar. Dan dalam penggunaan kata baku juga sudah benar serta dalam penulisan kata asingnya juga sudah benar.

Gambar (5)
Penjelasan :
Gambar (5); Spanduk
Penulisan kata asing disini sudah benar. Namun, yang salah yaitu pada penulisan jenis macam cuciannya yang seharusnya huruf depannya menggunakan huruf kapital seperti;
- Pakaian
- Karpet
- Boneka
- Gorden
- Tas
- Sepatu
Dll

Gambar (6)
Penjelasan :
Gambar (6); Baliho
 Kata “ Bis” yang ada di gambar itu salah , karena dikamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3 menerangkan bahwa kata tersebut mengartikan sebuah kendaraan besar. Oleh karena itu, kata “ Bis” yang ada pada gambar diatas adalah kata yang tidak baku . Seharusnya kata “Bis” itu diganti menjadi kata “ Bus” yang merupkan kata bakunya.

Gambar (7)
Penjelasan :
Gambar (7); Pamflet
Pada gambar ini kata praktik sudah benar menurut EYD, Tetapi yang salah pada tanda kutip satu setelag Dr. IS karena seharusnya itu tidak perlu digunakan. Dalam penulisan Praktik juga sudah benar menurut ejaan , Lalu penulisan yang salah yang kedua yaitu pada penulisan S/d seharusnya itu semua menggunakan (-) . Misal : Senin- Sabtu. 07.00-11.00 dan seterusnya.

Gambar (8)
Penjelasan :
Gambar (8); Poster
Dalam gambar ini semua penulisan dalam sudah sesuai dengan EYD penulisan Bergizi juga sudah benar , penulisan apapun juga sudah benar sesuai EYD. 

Gambar (9)
Penjelasan :
Gambar (9); Iklan
 Penulisan yang salah pada iklan ini adalah kata “Kayak” seharusnya kata yang baku itu adalah “ Seperti”. Dan dalam iklam menyebutkan NO BOKIS . Nah, dalam EYD tidak ada kata asing yang disingkat-singkat atau menurut bahasa gaulnya itu tidak ada dalam EYD.

Gambar (10)
Penjelasan :
Gambar (10); Pada gambar ini kesalahan penulisan yang pertama yaitu:;
1. SISI TV, Menurut EYD dalam bahasa asing penulisan yang benar itu adalah CCTV.
2. SecuRyTy , Dalam EYD penulisan yang benar itu seharusnya adalah Security.

4. Tugas EYD Pertemuan ke-6
Essay Deskriptif
Bandara Udara Internasional Kualanamu atau sering disebut dengan Kualanamu Internasional Airport adalah sebuah Bandara Udara Internasional yang melayani Kota Medan, Sumatera Utara. Bandara ini terletak di Kabupaten Deli Serdang, 23 km arah timur dari pusat Kota Medan. Bandara ini adalah bandara terbesar ketiga di Indonesia (setelah Soekarno-Hatta Jakarta dan yang baru Bandar Udara Internasional Kertajati Majalengka, Jawa barat). Lokasi bandara ini merupakan bekas areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa yang terletak di kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Pembangunan bandara ini merupakan dari MP3EI, untuk menggantikan Bandar Udara Internasional Polonia yang telah berusia lebih dari 85 tahun. Bandara Kualanamu diharapkan dapat menjadi bandara pangkalan transit Internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya. Bandara ini mulai beroperasi sejak 25 Juli 2013 meskipun ada fasilitas yang belum sepenuhnya selesai dikerjakan.

5. Tugas EYD Pertemuan ke-9
*Tugas hari ini adalah, DARI VIDEO YANG IBU BERIKAN:*
1. Susunlah menjadi teks drama percakapannya.
2. Analisislah kesalahan ejaannya (kosa kata dan pengucapannya).
3. Apakah dampak negatif dan positif bila anak-anak usia dini (SD) menonton video tersebut.
4. Bagaimana peran guru dan orang tua terhadap tayangan video tersebut.

Jawab : 
1. Teks 1 : gimana kita harus jual jinggal, kita akan kara Yara, kita akan bahagia dan ibu akan jadi sombong. Mau kan?
Teks 2 : benar juga ya kata ibu. Tapi kalau ginjal aku sama ginjal ibu berbeda. Lebih baik yang ibu jual itu ginjal ibu aja. Usah ginjal aku, karna ginjal aku gak bagus, rasa lain.
Teks 1 : bukan, jinggal mama rasa asam. Jadi kamu aja ya?
Teks 2 : gak, ibu aja. Ibu kan sudah kaya, jadi gimana ginjal ibu.
Teks 1 : kamu gak ngerti ya, asam dan bapak.
Teks 2 : biarin aja, yang penting ibu dapat untung.
Teks 1 : /menangis
Teks 2 : kenapa ibu nangis?
Teks 1 : gak boleh kayak gitu nak, itu dosa!

2. Dari yang saya analisis mengenai percakapan diatas, banyak kosa kata dan pengucapannya yang masih salah. Salah satunya adalah pengucapan kata 'jinggal' yang seharusnya diucapkan dengan kata 'ginjal'. Lalu pengucapan kata "kara yara' yang seharusnya di ucapkan dengan kata 'kaya raya'. Percakapan diatas masih banyak kekurangan nya dalam berbahasa. Banyak kata yang diucapkan dengan tidak jelas sehingga pendengar menjadi kebingungan dalam menyimaknya.

3. Dampak negatif nya = Mungkin sebagian besar anak-anak usia dini akan menirukan cara berbahasa yang terdapat dalam percakapan diatas. Dan itu sangat tidak bagus untuk ditirukan. Karena masih banyak kekurangan kosa kata dan pengucapan pada percakapan tersebut.
Dampak positifnya = dari yang saya lihat, jika untuk anak-anak usia dini, percakapan tersebut belum terdapat dampak positif nya. Mungkin sebagian anak-anak yang mengerti akan tertawa melihat percakapan tersebut karena menurut saya sendir, di dalam percakapan itu juga ada sedikit unsur humor nya. Tetapi tetap saja adegan dalam percakapan itu tidak pantas untuk di tirukan oleh anak seusia mereka.

4. Peran guru dan orang tua terhadap video tersebut haruslah saling mendidik, dan selalu memperhatikan anak-anaknya agar tidak terpengaruh oleh kata-kata yang tidak pantas untuk tirukan. Karena pada dasarnya anak-anak belum mengerti apa yang disampaikan didalam video tersebut, mereka belum bisa berfikir panjang untuk memahami maksud dari video itu. Bisa jadi dengan adanya kalimat 'menjual ginjal' mereka langsung berfikir bahwa ginjal itu bisa diperjualbelikan.

6. Tugas EYD Pertemuan ke-10
MAKALAH
KESANTUNAN BAHASA
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH : EJAAN BAHASA INDONESIA
DOSEN PENGAMPU : Lisa Septia Dewi Br.Ginting.,S.pd.,M.pd

DISUSUN OLEH : 
Dewi An-nisa Harahap (201214017)

PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUSLIM NUSANTARA AL-WASHLIYAH MEDAN
TA.2021-2022

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang Kesantunan Bahasa.
Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapat bantuan Doa dari teman-teman sekalian sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terutama Kepada Ibu Lisa Septia Dewi Br.Ginting.,S.pd.,M.pd selaku Dosen Pembimbing saya di Mata Kuliah Ejaan Bahasa Indonesia.
Terlepas dari itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah yang selanjutnya akan saya susun.
Akhir kata saya berharap semoga makalah tentang Kesantunan Bahasa ini dapat memberikan manfaat maupun menambah pengetahuan dan wawasan pembaca.
Wassallamualaikum wahrahmatullahi wabarakatuh









DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................
A. Latar Belakang.................................................................................................................
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................
C. Tujuan Pembahasan.......................................................................................................
D. Manfaat Pembahasan.....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................
A. Definisi Kesantunan Bahasa...........................................................................................
B. Definisi Kesantunan Berbahasa.....................................................................................
C. Kesantunan Bahasa Menurut Para Ahli.........................................................................
D. Ciri kesantunan Bahasa..................................................................................................
E. Bentuk dan jenis kesantunan Bahasa............................................................................
BAB III PENUTUP....................................................................................................................
A. Kesimpulan......................................................................................................................
B. Saran.................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................






BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesantunan berbahasa pada hakikatnya erat kaitannya dengan hubungan sosial dalam masyarakat. Kesantunan berbahasa sendiri merupakan pengungkapan gagasan, ide atau pendapat untuk saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur yang disertai dengan etika serta perilaku yang baik menurut norma-norma sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Kamisa (1997: 469) mengartikan kata santun sebagai halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; penuh rasa belas kasihan; suka menolong. Bahasa yang santun merupakan alat yang paling tepat digunakan dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan sosial. Hal tersebut karena bahasa yang santun memperhatikan kaidah kebahasaan dan tatanan nilai yang berlaku di dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kondisi masyarakat tersebut maka salah satu faktor yang sangat menentukan dalam proses pelestarian budaya kesantunan berbahasa terletak pada masyarakat itu sendiri. Kesantunan berbahasa seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki setiap individu, sebab jika tidak maka tradisi berbahasa yang santun tersebut akan memudar dalam kehidupan bermasyarakat dan selanjutnya lahirlah generasi yang arogan, kasar dan kering dari nilai-nilai etika masyarakat.
Ketika etika dan kesantunan dalam berbahasa menjadi topik pembicaraan, pembahasan konsep-konsep tentang nilai atau norma yang terkandung dan diyakini oleh masyarakat itu tidak mungkin dapat dipisahkan. Etika dapat diartikan sebagai ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, yang dapat menilai mana baik dan mana yang jahat. Hal ini sejalan dengan pendapat Chaer (2010: 100) yang menyatakan bahwa kita akan banyak teman dan disegani orang kalau dalam bertutur bukan saja santun, tetapi menunjukkan etika dan perilaku yang baik. Sebaliknya, kita akan banyak musuh dan tidak disegani orang kalau dalam bertutur yang tidak santun dan tidak beretika atau berperilaku yang tidak menyenangkan lawan tutur. Sementara itu Mufid (2009: 174) mengatakan bahwa etika membahas baik-buruk atau benar tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. Etika mempersoalkan bagaimana manusia seharusnya berbuat atau bertindak.
Bahasa digunakan oleh masyarakat sebagai alat komunikasi antar sesama karena masyarakat itu terdiri atas berbagai lapisan, tentunya bahasa yang digunakan akan bervariasi. Di dalam masyarakat, seseorang tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai anggota dari kelompok sosial. Oleh karena itu, bahasa dan pemakaiannya tidak diamati secara individual, tetapi dihubungkan dengan kegiatannya di dalam masyarakat. Dipandang secara sosial bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu dalam pergaulan di antara sesama anggota. Sebagai contoh, bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa nasional, bahasa negara, bahasa resmi dan bahasa persatuan antar suku bangsa. Namun, untuk dapat berbahasa dengan santun tentunya harus menguasai bahasa dengan baik.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kesantunan Berbahasa?
2. Apa saja kesantunan berbahasa menurut para Ahli?
3. Apa saja ciri kesantunan Bahasa?
4. Apa saja bentuk dan jenis kesantunan Bahasa?

C. Tujuan Pembahasan
1. Menjelaskan tentang Kesantunan Bahasa
2. Menjelaskan tentang Kesantunan Bahasa menurut para Ahli
3. Menjelaskan ciri kesantunan Bahasa
4. Menjelaskan bentuk dan jenis kesantunan Bahasa

D. Manfaat Pembahasan
Adapun manfaat dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu, manfaat teoretis dan manfaat praktis.
a. Manfaat Teoretis 
Hasil Peneltian ini diharapkan mampu memperkaya khazanah kepustakaan dalam bidang linguistik khususnya dalam bidang pragmatik, selain itu penelitian ini diharapkan dapat menambah data-data kebahasaan, serta dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan teori kesantunan untuk penelitian sejenis kedepannya.
b. Manfaat Praktis 
Bagi Program Studi, penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia untuk dapat memahami kesantunan berbahasa dalam kajian pragmatik, kemudian bagi peneliti lain, penelitian ini berguna untuk dijadikan acuan, referensi atau dokumentasi pada penelitian kesantunan berbahasa di masa yang akan datang.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Kesantunan
Fraser dalam Gunarwan (1994) mendefinisikan kesantunan adalah “property associated with neither exceeded any right nor failed to fullfill any obligation”. Dengan kata lain kesantunan adalah properti yang diasosiasikan dengan ujaran dan di dalam hal ini menurut pendapat si pendengar, si penutur tidak melampaui hak-haknya atau tidak mengingkari memenuhi kewajibannya.
Beberapa ulasan Fraser mengenai definisi kesantunan tersebut yaitu pertama, kesantunan itu adalah properti atau bagian dari ujaran; jadi bukan ujaran itu sendiri. Kedua, pendapat pendengarlah yang menentukan apakah kesantunan itu ada pada suatu ujaran. Mungkin saja sebuah ujaran dimaksudkan sebagai ujaran yang santun oleh si penutur, tetapi di telinga si pendengar ujaran itu ternyata tidak terdengar santun, dan demikian pula sebaliknya. Ketiga, kesantunan itu dikaitkan dengan hak dan kewajiban penyerta interaksi. Artinya, apakah sebuah ujaran terdengar santun atau tidak, ini ”diukur” berdasarkan (1) apakah si penutur tidak melampaui haknya kepada lawan bicaranya dan (2) apakah di penutur memenuhi kewajibannya kepada lawan bicaranya itu.
Pertama, kesantunan memperlihatkan sikap yang mengandung nilai sopan santunatau etiket dalam pergaulan sehari- hari. Ketika orang dikatakan santun, maka dalam diri seseorang itu tergambar nilai sopan santun atau nilai etiket yang berlaku secara baik di masyarakat tempat seseorang itu mengambil bagian sebagai anggotanya. Ketika dia dikatakan santun, masyarakat memberikan nilai kepadanya, baik penilaian itu dilakukan secara seketika (mendadak) maupun secara konvensional (panjang, memakan waktu lama). Sudah barang tentu, penilaian dalam proses yang panjang inilebih mengekalkannilai yang diberikan kepadanya.
Kedua, kesantunan sangat kontekstual, yakni berlaku dalam masyarakat, tempatatau situasi tertentu, tetapi belum tentu berlaku bagi masyarakat, tempat atau situasi lain.Ketika seseorang bertemu dengan teman karib, boleh saja dia menggunakan kata yangagak kasar dengan suara keras, tetapi hal itu tidak santun apabila ditujukan kepada tamuatau seseorang yang baru dikenal. Mengecap atau mengunyah makanandengan mulut berbunyi kurang sopan kalau sedang makan dengan orang banyak di sebuah perjamuan,tetapi hal itu tidak begitu dikatakan kurang sopan apabila dilakukan di rumah.
Ketiga, kesantunan selalu bipolar, yaitu memiliki hubungan dua kutub, sepertiantara anak dan orangtua, antara orang yang masih muda dan orang yang lebih tua, antaratuan rumah dan tamu, antara pria dan wanita, antara murid dan guru, sebagainya.
Keempat, kesantunan tercermin dalam cara berpakaian (berbusana), cara berbuat(bertindak) dan cara bertutur (berbahasa).

B. Defenisi Kesantunan Berbahasa
Kesantunan berbahasa merupakan salah satu aspek kebahasaan yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional penuturnya karena didalam komunikasi, penutur dan petutur tidak hanya dituntut menyampaikan kebenaran, tetapi harus tetap berkomitmen untuk menjaga keharmonisan hubungan. Keharmonisan hubungan penutur dan petutur tetap terjaga apabila masing- masing peserta tutur senantiasa tidak saling mempermalukan. Dengan perkataan lain, baik penutur maupun petutur memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga muka.Kesantunan (politeness), kesopansantunan atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbalatau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya,tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dandipergunakannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya
Tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan para peserta komunikasi(komunikator dan komunikan) demi kelancaran komunikasi. Oleh karena itu, masalah tatacara berbahasa ini harus mendapatkan perhatian, terutama dalam proses belajar mengajar bahasa. Dengan mengetahui tatacara berbahasa diharapkan orang lebih bisa memahami pesan yang disampaikan dalam komunikasi karena tatacara berbahasa bertujuan mengatur serangkaian hal berikut :
1. Apa yang sebaiknya dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu
2. Ragam bahasa apa yang sewajarnya dipakai dalam situasi tertentu
3. Kapan dan bagaimana giliran berbicara dan pembicaraan sela diterapkan
4. Bagaimana mengatur kenyaringan suara ketika berbicara.
5. Bagaimana sikap dan gerak-gerik ketika berbicara.
6. Kapan harus diam dan mengakhiri pembicaraan.
Tatacara berbahasa seseorang dipengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Tatacara berbahasa orang Inggris berbeda dengan tatacara berbahasa orang Amerika meskipun mereka sama-sama berbahasa Inggris. Begitu juga, tatacara berbahasa orang Jawa berbeda dengan tatacara berbahasa orang Batak meskipun mereka sama-sama berbahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang sudah mendarah daging pada diri seseorang berpengaruh pada pola berbahasanya.Beberapa teori yang mendasari kesantunan berbahasa yaitu teori Lakoff, teoriYueguo Gu, teori Pranowo dan teori Grice.

C. Kesantunan Bahasa Menurut Para Ahli
– Markhamah dan Atiqa Sabardila (2013:153) menyatakan bahwa kesantunan merupakan suatu cara yang dilakukan penutur saat berkomunikasi supaya penutur tidak merasa tertekan, tersudut, dan tersinggung. Kesantunan berbahasa dalam hal ini berupaya untuk menjaga harga diri pembicara maupun pendengar. Penggunaan bahasa yang santun saat berkomunikasi akan membuat mitra tutur dan lawan bicara merasa dihormati, nyaman, dan tidak menimbulkan kesalah pahaman.

— Menurut Leech (dalam Jumanto, 2017: 87) mengkaji kesantunan berkaitan dengan bidal percakapan Grice (1975). Bidal-bidak percakapan dari Grice ini sering dilanggar atau tidak dipatuhi dalam interaksi sosial. Akibat banyaknya pelanggaran yang terjadi, Leech mengaukan dua prinsip kesantunan untuk menghindari ujaran yang berpotensi mengancam bahkan merusak muka. Dua prinsip kesantunan tersebut, yaitu : (a) meminimalkan ungkapan perasaan yang tidak santun, dan memaksimalkan ungkapan perasaan yang santun, (b) memilih tuturan yang tidak merendahkan status orang lain (harga diri), atau menghindari tuturan yang bisa membuat seseorang kehilangan muka ( harga dirinya). Ada beberapa hal yang dirumuskan oleh Leech yang tidak boleh dilakukan seorang penutur kepada petutur, yaitu: (a) jangan menyuruh, (b) tidak boleh mengatakan hal buruk tentang petutur, (c) tidak boleh mengungkapkan perasaan senang hati ketika petutur sedang bersedih, (d) jangan menyerang pandangan petutur, (e) tidak boleh memuji diri sendiri, atau membicarakan tentang kekayaan, kekuatan diri sendiri secara terus-menerus. Berdasarkan kelima larangan tersebut, leech mengajukan tujuh bidal kesantunan. Tujuh bidal kesantunan tersebut yaitu:
1. Bidal Ketimbangrasaan 
a. Meminimalkan biaya kepada orang lain.
b. Memaksimalkan maslahat (keuntungan) terhadap orang lain.
Contoh: “ Anda makan dahulu, saya belakangan.”
Tuturan tersebut lebih santun daripada:
“ Saya makan dahulu, ya.” 

2. Bidal Kemurahhatian
a. Meminimalkan maslahat terhadap diri sendiri. 
b. Memaksimalkan biaya terhadap diri sendiri. 
Contoh: “ Biar saya pindahkan kursi itu ke sana.”
Tuturan di atas lebih santun daripada:
“ Pindahkan kursi itu ke sana!”

3. Bidal Pujian
a. Meminimalkan penjelekan terhadap orang lain.
b. Memaksimalkan pujian terhadap orang lain.
Contoh: “ Mobilmu bagus juga ternyata!”
Tuturan tersebut lebih santun daripada:
“ Mobilmu kok keropos gitu ya?”

4. Bidal Kerendahhatian
a. Meminimalkan pujian terhadap diri sendiri.
b. Memaksimalkan penjelekan terhadap diri sendiri.
Contoh: “ Ah, baju ini sudah lama, kok. Baru saya pakai.”
Tuturan tersebut lebih santun daripada :
Ya, baju ini masih baru. Aku beli tiga hari yang lalu!”

5. Bidal Kesepakatan
a. Meminimalkan ketidaksepakatan antara diri sendiri dengan orang lain.
b. Memaksimalkan kesepakatan antara diri sendiri dengan orang lain. 
Contoh: “ Saya setuju atas usul anda kemarin.”
Tuturan tersebut lebih santun daripada:
“ Saya tidak setuju atas usul anda kemarin.”

6. Bidal Simpati 
a. Meminimalkan antipati antara diri sendiri dengan orang lain. 
b. Memaksimalkan simpati antara diri sendiri dengan orang lain. 
Contoh: “ Saya ikut sedih kucingmu mati.”
Tuturan tersebut lebih santun daripada:
“ Biar saja, mati. Kan Cuma kucing.”

7. Bidal Pertimbangan
Bidal pertimbangan menyatakan bahwa suatu pertimbangan tertentu yang diberikan atas pendapat dari orang lain ( memaksimalkan rasa senang kepada orang lain) dianggap menunjukkan kesantunan daripada tidak sama sekali (memaksimalkan rasa tidak senang kepada orang lain), sebagai contoh dalam tuturan berikut ini: “ Apa yang saudara sampaikan itu kurang tepat, tetapi dapat kita pertimbangkan kembali.” Tuturan tersebut lebih santun daripada: “ Apa yang saudara sampaikan itu sangat kurang tepat.” Semua bidal kesantunan menurut Leech tersebut merupakan strategi menjaga muka orang lain saat berinteraksi.

— Pranowo (2012:1-3) mengatakan bahwa ungkapan kepribadian yang baik, benar, dan santun perlu dikembangkan pada diri pribadi seseorang. Hal tersebut merupakan cerminan budi pekerti halus dan pekerti luhur seseorang. Penggunaan bahasa yang santun mampu menjaga harkat dan martabat dirinya dan menghormati orang lain. Menjaga harkat dan martabat ialah substansi kesantunan, sedangkan menghormati orang lain itu bersifat perlokutif. Menurut Ngalim (2015:78) menyatakan bahwa kesantunan berbahasa sama dengan wujud perilaku berbahasa yang telah disepakati komunitas pemakai bahasa tertentu dengan saling menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lainnya. Jadi, kesantunan berbahasa diwujudkan dalam perilaku manusia dengan cara yang berbeda-beda akan tetapi sesuai dengan aturan norma sopan santun sehingga tercipta hubungan yang baik dalam berinteraksi.

— Nadar (2013:251) mengatakan bahwa kesopanan berbahasa dapat disebut kesantunan berbahasa yang dipakai penutur untuk mengurangi rasa tidak senang, tidak berkenan hati, atau sakit hati akibat tuturan yang diucapkan oleh penutur. Maksudnya, dengan komunikasi bahasa yang santun dapat menjadikan kegiatan berkomunikasi menjadi baik dan saling menghormati. Seperti yang dikatakan Chaer (2010:10) kesantunan berbahasa pada suatu tuturan terdapat tiga kaidah yang harus dipatuhi seperti; formalitas, kesamaan, dan ketidaktegasan. Kaidah formalitas memiliki arti jika tuturan tidak boleh ada unsur pemaksaan. Kaidah kesamaan berarti adanya kesetaraan penutur dengan lawan tutur, dan kaidah ketidaktegasan dapat diartikan bahwa lawan tutur mempunyai pilihan untuk mersepon tuturan yang telah disampaikan.

— Prayitno (2011:31) mengungkapkan prinsip kesantunan berhubungan dengan pandangan norma sosial, teori kontrak percakapan, teori maksim percakapan, serta teori penyelamatan muka. Pandangan norma sosial merupakan ciri masyarakat yang pasti memiliki adat istiadat, aturan norma, dan tatanan masyarakatl. Kesantunan sosial tersebut bersifat mengikat partisipasi dalam hubungan masyarakat. Berhubungan dengan penelitian, Rahardi (2005:35) mengatakan penelitian kesantunan mengambil kajian penggunaan bahasa pada suatu masyarakat dengan bahasa tertentu atau berbeda-beda. Perbedaan kehidupan masyarakat dengan bermacam-macam latar belakang budaya dan situasi sosial ini dapat disatukan dengan kesantunan berbahasa untuk saling menghormati. Dapat disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa merupakan bagian dari etika dalam hubungan komunikasi agar tercipta dengan baik, santun dan mencegah adanya permasalahan dalam segala kegiatan yang dilakukan manusia.

— Rahardi (2006:59) menyatakan bahwa Leech membagi prinsip kesantunan menjadi enam yang terdiri dari; maksim kebijaksanaan (mengurangi kerugian orang lain dan menambahi keuntungan orang lain), maksim kedermawanan (mengurangi keuntungan diri sendiri dan menambahi pengorbanan diri sendiri), maksim penghargaan (mengurangi cacian pada orang lain dan menambahi pujian pada orang lain), maksim kesederhanaan (mengurangi pujian pada diri sendiri dan menambahi cacian pada diri sendiri), maksim permufakatan (mengurangi ketidaksesuaian antara diri sendiri dengan orang lain dan meningkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain), serta maksim simpati (mengurangi antipati antara diri sendiri dengan orang lain dan meningkatkan simpati antara diri sendiri dengan orang lain).

— Geoffrey Leech (1983) mendefinisikan kesantunan sebagai "strategi untuk menghindari konflik" yang "dapat diukur berdasarkan derajat upaya yang dilakukan untuk menghindari situasi konflik". Enam maksim kesantunan (politeness maxims) yang diajukan oleh Leech adalah sebagai berikut:
a. Maksim kebijaksanaan (tact): minimalkan kerugian bagi orang lain; maksimalkan keuntungan bagi orang lain.
Contoh: Bila tidak berkeberatan, sudilah datang ke rumah saya.
b. Maksim kedermawanan (generosity): minimalkan keuntungan bagi diri sendiri; maksimalkan kerugian bagi diri sendiri.
Contoh: Bapak silakan beristirahat. Biar saya yang mencuci piring kotor ini.
c. Maksim pujian (approbation): minimalkan cacian kepada orang lain; maksimalkan pujian kepada orang lain.
Contoh: Sepatumu bagus sekali. Beli di mana?
d. Maksim kerendahanhatian (modesty): minimalkan pujian kepada diri sendiri; maksimalkan cacian kepada diri sendiri.
Contoh: Duh, saya bodoh sekali. Saya tidak dapat mengikuti kecepatan dosen tadi saat menerangkan. Boleh saya pinjam catatanmu?
e. Maksim kesetujuan (agreement): minimalkan ketidaksetujuan dengan orang lain; maksimalkan kesetujuan dengan orang lain.
Contoh: Betul, saya setuju. Namun, ....
f. Maksim simpati (sympathy): minimalkan antipati kepada orang lain; maksimalkan simpati kepada orang lain.
Contoh: Saya turut berdukacita atas musibah yang menimpa Anda.

D. Ciri kesantunan berbahasa 
dapat dilihat pada jenis kalimat dan strukturnya. Jenis kalimat, kalimat berita dan kalimat tanya dipandang lebih santun daripada kalimat perintah. Struktur kalimat, kalimat yang berstruktur lebih lengkap akan menyebabkan lebih santun daripada kalimat yang strukturnya pendek. Mitra tutur, usia dan status sosial merupakan beberapa faktor yang turut berpengaruh pada kesantunan berbahsa. Selanjutnya tempat, waktu, dan topik pembicaraan.
Strategi berbahasa santun yang pertama adalah skala untung rugi. Tuturan yang merugikan penutur ditandai dengan penggunaan kata-kata yang membesarkan mitra tutur atau memuji orang lain dan tuturan yang menguntungkn penutur ditandai oleh penggunaan kata-kata yang menempatkan status mitra tutur berbeda dalam posisi lemah. Terdapat tujuh kesantunan dalam berbahasa, yaitu maksim kerendahhatian, maksim pertimbangan, maksim simpati, maksim kedermawanan, maksim pujian, dam maksim persetujuan. Yang ketiga ada skala pilihan, yaitu makin banyak pilihan keputusan yang diberikan penutur kepada mitra tutur, dianggap semakin santun basahanya. Yang keempat adalah skala tidak langsung, yaitu semakin tidak langsung suatu maksud disampaikan, semakin tidak santun. Yang terakhir adalah skala keakraban, yaitu semakin akrab mitra tutur, semakin kasar bahasanya.
Sikap dan tindak tutur yang bisa timbul kesan tidak santun: (a) Penutur menyampaikan kritik secara langsung, (b) Penutur didorong emosi, (c) Penutur menyampaikan tuduhan dan kecurigaan, (d) Penutur protektif terhadap pendapatnya, (e) Penutur memojokkan mitra tutur sehingga tidak berdaya.

E. Bentuk dan Jenis Kesantunan Bahasa
— Kesantunan verbal
Pada umumnya, kesantunan bahasa bermaksud kesopanan dan kehalusan dalam berbahasa semasa berkomunikasi sama ada melalui lisan, perlakuan atau tulisan kepada sesiapa sahaja. Kesantunan berbahasa amat penting dan mesti diamalkan oleh setiap masyarakat di negara yang berbilang kaum ini, Malaysia. Bahasa melambangkan kehalusan budi, kesopanan dan tingkah laku penutur seseorang. Oleh itu, kesantunan berbahasa seharusnya diamalkan bukan sahaja dalam konteks komunikasi bukan lisan tetapi juga dalam konteks komunikasi secara lisan. 
Konsep kesantunan bahasa verbal merujuk kepada semua aspek komunikasi secara lisan. Kesantunan verbal perlulah sentiasa ditonjolkan ketika bercakap dengan orang lain, bergurau senda dengan rakan, menyampaikan maklumat, bertanyakan sesuatu, membuat pembentangan kepada umum dan sebagainya. Kita dapat lihat dengan jelas bahawa komunikasi senantiasa ditunjukkan melalui media massa seperti radio, televisyen, internet, pengucapan awam dan juga ceramah.
Setiap kaum di Malaysia amat mementingkan kesantunan bahasa disebabkan agama masing-masing dan ajaran yang baik daripada ibu bapa telah ditengahkan dalam jiwa mereka. Sebagai contoh, bertegur sapa atau bertanya khabar terlebih dahulu apabila bertemu dengan sahabat atau orang yang lebih tua sebagai tanda menghormati orang lain.
"Apa khabar?" ...... "Khabar baik."
"Selamat pagi, tuan." ...... "Selamat pagi."
"Terima kasih." ...... "Sama-sama."
Selain itu, senyuman juga merupakan suatu kesantunan bahasa yang dapat merapatkan hubungan silaturahim antara satu sama lain. Sambil tersenyum sambil berbual mesra supaya orang akan berasa gembira, senang hati dan selesa untuk terus berbicara. Pada masa yang sama, rakan yang berbual akan membuat tanggapan yang positif bahawa orang tersebut bercakap dengan ikhlas dan jujur. Pergerakan badan, ekspresi wajah dan postur badan juga penting untuk menerangkan sesuatu dengna lebih mendalam tentang sesuatu konsep yang hendak disampaikan. Dengan ini, senyumlah, memulakan masyarakat yang sejahtera lagi harmoni.

— Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonerbal merupakan komunikasi yang tanpa kata-kata ataupun dikatakan dalam bahasa badan dan tubuh. Bahasa badan termasuklah perhubungan ruang dari jarak, orientasi masa, gerak-geri, rupa muka, gerak mata, sentuhan, suara dan juga kadar kelajuan bercakap. Secara ringkasnya, komunikasi bukan verbal merujuk kepada semua aspek komunikasi kecuali percakapan. Tujuan berkomunikasi bukan verbal adalah untuk menyampaikan mesej yang sukar dilahirkan melalui percakapan atau penulisan. Komunikasi melalui badan tubuh ini dapat menggambarkan emosi, personaliti, tujuan dan juga status sosial seseorang.
Fungsi Komunikasi Nonverbal :
a. Pengulang - untuk mengulang mesej yang disampaikan secara verbal
b. Penggantian - menggantikan verbal dengan simbol atau lambang.
c. Kontradiksi - untuk menolak sesebuah pesan verbal dengan makna lain
d. Pelengkap - melengkapkan dan menyatukan bahasa
e. Penegasan - menegaskan dan mengukuhkan bahasa

Aspek-aspek Kesantunan Nonverbal :
a. Gerakan Anggota Badan
b. Gerakan Mata
c. Gerakan Tangan

— Kesantunan Lisan
          Komunikasi lisan ialah komunikasi dua hala yang berlaku secara langsung dalam perbualan.  Komunikasi lisan dapat mengeratkan hubungan silaturahim antara satu sama lain dan juga menjalinkan hubungan peribadi masing-masing. Kesantunan lisan ini selalunya dapat dilihat dengan jelas dalam aktiviti seperti perbualan wawancara, ucapan, pengacara majlis, mesyuarat ataupun pertemuan dengan tetamu.

Kesantunan dalam lisan melibatakan : 
a. Penggunaan bahasa yang sopan, beradab dan halus.
b. Penggunaan bahasa tubuh yang beradab dan bertatasusila

Bentuk kesantunan lisan :
a. Rasmi - mesyuarat, syarahan, ucapan, pidato, forum
b. Tidak rasmi - perbualan telefon, perbualan di kedai kopi

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam berkomunikasi dengan orang lain hendaknya mempunyai sopan santun, sehingga orang yang berkomunikasi dengan kita akan terasa nyaman dan senang. Berbicara santun tidak harus dengan menggunakan bahasa baku, karena belum tentu menurut orang kita berbicara dengan santun. Banyak teori yang telah menyebutkan mengenai cara-cara bertutur kata yang santun dengan orang lain. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa orangyang dengan sengaja maupun tidak sengaja bertutur kata yang tidak sopan dan kasar terhadap orang lain. Apalagi dengan gaya hidup yang ada saat ini. Ada pun teori dari beberapa pakar yang menjelaskan tentang bagaimana berbicara dengan santun, yang antara lain di kemukaan markhamah dan Atiqa Sabardila, leech, Pranowo, Nadar, Prayitno, Rahardi, dan Geoffrey. Teori yang mereka kemukakan tidak menyebutkan bahwa berbicara yang santun harus dengan bahasa baku, tetapi mereka menjelaskan kesantunan dalam berbicara ini dengan aspek-aspek yang sesuai dengan kehidupan sehari-sehari sehingga mudah untuk kita terapkan.

B. Saran
Demikianlah Makalah yang saya buat ini, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca. Saya menyadari bahwa saya masih sangat jauh sekali dari kata-kata sempurna. Untuk kedepannya saya akan lebih jelas dan lebih fokus lagi dalam menerangkan penjelasan mengenai Pembahasan diatas dengan sumber-sumber yang lebih lengkap dan lebih banyak lagi. Dan tentunya bisa untuk dipertanggung jawabkan kritikan-kritikan dan saran-saran kepada saya. Guna untuk menyimpulkan kepada kesimpulan dari pembahasan makalah yang sudah dijelaskan diatas. Sekian penutup dari saya semoga dapat diterima di hati dan saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.




DAFTAR PUSTAKA
Diakses dari laman Web :

https://eprints.umm.ac.id
https://blog.ub.ac.id/marlinasipayung/2012/06/11/makalah-kesantunan-dalam-berbahasa/
http://eprints.ums.ac.id
https://www.kompasiana.com/angellika/5691eeefc823bd6305f681cb/kesantunan-berbahasa
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kesantunan_berbahasa
http://threecheese1997.blogspot.com/2015/09/bab-3.html?m=1

7. Tugas EYD Pertemuan ke-12
KUIS 
EJAAN YANG DI SEMPURNAKAN
1. Rincikan sejarah singkat perkembangan EYD?
2. Fungsi Ejaan yang disempurnakan?
3. Tujuan Ejaan yang disempurnakan?
4. Yang harus diperhatikan dalam Ejaan yang di sempurnakan?
5. Mengapa KBBI mengalami perubahan per 4 tahun sekali?

Jawab :
1. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan berlaku sejak 23 Mei 1972 hingga 2015 pada masa menteri Mashuri Saleh. Ejaan ini menggantikan Ejaan Soewandi yang berlaku sebelumnya. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ini mengalami dua kali perbaikan yaitu pada 1987 dan 2009.

2. Ejaan bahasa Indonesia perlu disempurnakan untuk memantapkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Adapun fungsinya sebagai berikut:
— Landasan pembakuan tata bahasa
Penggunaan ejaan dalam penulisan bahasa akan membuat tata bahasa yang digunakan semakin baku.
— Landasan pembakuan kosa kata serta istilah
Tidak hanya membuat tata bahasa semakin baku, ejaan juga membuat pemilihan kosa kata dan istilah mennadi lebih baku.
— Penyaring masuknya unsur bahasa lain ke bahasa Indonesia
Ejaan juga memiliki fungsi penting sebagai penyaring bahasa lain ke bahasa Indonesia. Sehingga dalam penulisannya tidak akan menghilangkan makna aslinya.
— Membantu pemahaman pembaca dalam mencerna informasi
Penggunaan ejaan akan membuat penulisan bahasa lebih teratur. Hal ini membuat pembaca semakin mudah dalam memahami informasi yang disampaikan secara tertulis.

3. Tujuan adanya ejaan ini adalah untuk memberi pengertian pada tulisan agar lebih jelas dan memudahkan pembaca untuk memahami informasi yang disampaikan secara tertulis dan Untuk menciptakan pengunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, Sebagai bentuk menghargai dan melestarikan bahasa pemersatu, agar tetap menjadi bahasa kebanggaan negara.

4. Yang harus diperhatikan dalam Ejaan yang di sempurnakan adalah :
1. Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
2. Penulisan kata.
3. Penulisan tanda baca.
4. Penulisan singkatan dan akronim.
5. Penulisan angka dan lambang bilangan.
6. Penulisan unsur serapan.

5. kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI secara rutin melakukan pembaruan atau melakukan perubahan dan memasukkan sejumlah daftar kata-kata. 
kata-kata yang masuk dalam pemutakhiran KBBI biasanya yang kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari baik kosakata lama maupun yang mengalami pergeseran maknanya. 
Pembaruan terakhir KBBI dilakukan pada Oktober 2019, dan ada lebih dari 1000 entri baru yang masuk dalam KBBI edisi terbaru. 
Artinya dalam sejarah dan dalam seiring perkembangan zaman bahasa semakin gaul dan banyak muncul bahasa bahasa lainnya, 
Sebab itu setiap pumatakhiran KBBI mengalami perubahan setiap 4 tahun sekali. karena banyaknya muncul bahasa-bahasa baru yang harus dimasukkan ke dalam KBBI agar penambahan bahasa itu ada dan makna dari bahasa itu ada.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUMPULAN TUGAS-TUGAS JURNALISTIK